Benarkah Puasa Intermiten Solusi Cepat Penurunan Berat Badan?
Seiring meningkatnya kesadaran akan kesehatan, berbagai metode diet baru terus bermunculan, salah satunya adalah puasa intermiten atau intermittent fasting. Metode ini semakin populer karena dianggap sebagai cara yang efektif dan cepat untuk menurunkan berat badan. Namun, apakah benar puasa intermiten merupakan solusi instan? Pertanyaan ini sering muncul di kalangan mereka yang ingin memulai gaya hidup sehat, dan jawabannya jauh lebih kompleks dari sekadar “ya” atau “tidak”. Puasa intermiten adalah pola makan yang mengatur siklus antara periode makan dan periode puasa. Ada beberapa metode yang umum diterapkan, seperti metode 16:8 (berpuasa selama 16 jam dan memiliki jendela makan 8 jam) atau metode 5:2 (makan normal selama 5 hari dan membatasi asupan kalori secara drastis selama 2 hari).
Menurut Dr. Maya Lestari, seorang ahli gizi dari Pusat Gizi Masyarakat Jakarta, dalam sebuah seminar daring pada 18 Agustus 2025, efektivitas puasa intermiten dalam penurunan berat badan tidak hanya bergantung pada periode puasa itu sendiri. Faktor yang paling krusial adalah defisit kalori. Seseorang tetap akan mengalami penurunan berat badan selama asupan kalori yang masuk lebih sedikit daripada kalori yang dibakar oleh tubuh. Puasa intermiten membantu mencapai defisit kalori ini karena secara alami membatasi waktu makan, sehingga cenderung mengurangi total kalori yang dikonsumsi per hari. Namun, jika selama jendela makan seseorang mengonsumsi makanan tinggi kalori dan tidak sehat dalam jumlah besar, maka tujuan penurunan berat badan mungkin tidak akan tercapai.
Selain itu, puasa intermiten juga menawarkan manfaat lain yang mendukung kesehatan, seperti perbaikan sensitivitas insulin, yang sangat penting dalam pencegahan diabetes tipe 2. Ketika berpuasa, kadar insulin dalam tubuh akan menurun, memungkinkan sel-sel tubuh menjadi lebih sensitif terhadap insulin. Proses ini membantu tubuh menggunakan glukosa lebih efisien. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Nutrition pada 12 Juli 2025 menunjukkan bahwa partisipan yang menerapkan metode puasa 16:8 mengalami peningkatan signifikan dalam sensitivitas insulin setelah 12 minggu. Manfaat ini, pada gilirannya, dapat berkontribusi pada pengelolaan berat badan jangka panjang.
Meskipun terlihat menjanjikan, puasa intermiten tidak cocok untuk semua orang. Beberapa kelompok, seperti ibu hamil, penderita diabetes tipe 1, atau individu dengan riwayat gangguan makan, sebaiknya menghindari metode ini. Penting untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan atau ahli gizi sebelum memulai pola makan ini. Pada 25 September 2025, dalam konferensi pers yang diadakan oleh Ikatan Ahli Gizi Indonesia, Prof. Bambang Suryo menggarisbawahi pentingnya pendekatan yang personal dan terukur. Beliau menekankan bahwa keberhasilan diet apa pun, termasuk puasa intermiten, bergantung pada komitmen, konsistensi, dan kesesuaian dengan kondisi tubuh masing-masing individu. Dengan demikian, meskipun puasa intermiten bisa menjadi alat yang ampuh untuk penurunan berat badan, ia bukanlah “solusi cepat” yang bekerja secara ajaib tanpa usaha. Keberhasilan nyata datang dari kombinasi antara defisit kalori yang sehat dan gaya hidup seimbang secara keseluruhan.
