Mafia Calo Tiket Bus di Sumut Masih Hantui Calon Pemudik
Menjelang puncak arus mudik lebaran, keresahan mulai menyelimuti para perantau yang berencana pulang ke kampung halaman melalui jalur darat di wilayah Sumatera Utara. Keberadaan Mafia Calo tiket bus di berbagai terminal besar masih menjadi persoalan pelik yang belum kunjung tuntas meski pengawasan telah ditingkatkan. Para oknum ini sering kali memborong tiket dari agen resmi secara ilegal, lalu menjualnya kembali dengan harga yang melonjak hingga dua atau tiga kali lipat dari tarif normal.
Modus operandi yang dijalankan oleh kelompok ini terbilang cukup rapi dan terorganisir di dalam lingkungan terminal. Anggota Mafia Calo biasanya mendekati calon penumpang yang terlihat bingung atau kehabisan tiket di loket resmi dengan iming-iming keberangkatan cepat tanpa antre. Padahal, sering kali tiket yang ditawarkan adalah tiket palsu atau tiket bus kelas ekonomi yang dihargai setara dengan bus eksekutif. Tekanan waktu dan keinginan besar untuk segera berangkat membuat banyak pemudik akhirnya terpaksa mengambil tawaran tersebut tanpa memikirkan risiko keamanan dan kerugian finansial yang mengintai.
Pihak berwajib dan pengelola terminal sebenarnya telah memasang berbagai spanduk peringatan dan membuka posko pengaduan di titik-titik strategis. Namun, ancaman dari Mafia Calo tetap terasa nyata karena mereka sering kali mengintimidasi penumpang maupun petugas agen yang mencoba menghalangi aksi mereka. Lemahnya pengawasan di jam-jam sibuk atau saat tengah malam menjadi celah bagi para calo untuk melancarkan aksinya secara leluasa. Diperlukan tindakan tegas dan konsisten dari aparat kepolisian untuk membongkar jaringan ini hingga ke akar-akarnya agar kepercayaan masyarakat terhadap transportasi bus tetap terjaga.
Digitalisasi sistem pemesanan tiket sebenarnya diharapkan menjadi solusi ampuh untuk memutus mata rantai praktik ilegal ini. Namun, kenyataannya masih banyak pemudik di daerah yang belum terbiasa menggunakan aplikasi atau memilih membeli secara langsung karena keterbatasan akses teknologi. Celah inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh Mafia Calo untuk tetap eksis dan meraup keuntungan pribadi di atas penderitaan orang lain. Edukasi mengenai pentingnya membeli tiket hanya melalui saluran resmi harus terus digalakkan agar masyarakat tidak lagi menjadi korban penipuan yang merugikan di tengah momen suci Ramadan.
